Kamis, 07 Juni 2012

Di Luar Jangkauan



Bentangan nafasmu tak pernah sampai ke telingaku
Membeku di tengah malam bersalju
Tenggelam jauh diantara keheningan malam
Kemudian terpisah berserakan
Kini, kita terduduk pada sisi yang berjauhan
Saling bertolak belakang
Tanpa sekalipun kau menoleh
Menatap wajah dengan noda jelaga yang tertoreh

Aku tak akan mencoba memaki Tuhan
Karena melahirkanku tak semenawan kanvas terbalut goresan tinta
Karena jelmaanku tak setampan siluet senja

Palingkan wajahmu
Sebab kau akan jauh meninggalkan kedamaian
Hapuskan ingatmu
Karena hanya gemuruh badai yang kan kau temukan
Abaikan aku
Karena diriku selalu berada di luar jangkauan

Minggu, 03 Juni 2012

Sepotong Cinta



Tubuhku berangsur ringkih, ketika tak pernah nampak sosokmu di balik daun jendela
Mataku berangsur buram, ketika tak sekalipun kehadiranmu menyela kehidupanku yang maya
Telingaku berangsur tuli, ketika derai tawa itu tak pernah terdengar suaranya

Terjalin erat dalam ingatan masa lalu
Aku terus mengulang
Mengulang
Dan mengulang
Tentang sepotong cinta yang kutawarkan, yang tak pernah diterima
Mengendap di dasar asa

Membuka pintu hatimu—harus sampai berapa lama?
Tak ada desir halus yang mencoba mendorongku sekuat tenaga
Sungai yang mengering
Ladang yang tandus
Bunga-bunga yang layu
Menanti datangnya hujan
Menanti datangnya kekuatan
Menanti datangnya kehidupan

Aku mengintip dalam celah kardus yang kosong
Disana terbaring ketiadaan
Lalu nampak seperti:
Tempat menaruh mimpi-mimpi yang terkubur dalam liang
Tempat menyimpan segelintir harapan yang gersang
Tempat penantian panjang yang tanpa jeda
Seperti potongan cinta yang kau buang dengan sia-sia

Sabtu, 02 Juni 2012

Dilema Dari Semua Macam Dilema


Sebelum memulai melakukan word travelling (baca: meluangkan waktu untuk membaca tulisan anak abege SMA labil), ada baiknya kita sama-sama mengerti peta konsep mengenai mengapa postingan ini bisa tercipta. Ingat, MENGAPA dan bukan APA KATA DUNIA *abaikan*

#MengapaFaturMembuatPostinganSuperLabil

1.       Penyesalan selalu datang di belakang.
2.       Aku ingin sekali mengikuti ujian SNMPTN lewat Jalur Undangan.
3.       Aku sangat sangat sangat sangat (setelah sangat sangat sangat yang kesekian kalinya...) mendambakan diterima di Universitas Airlangga, Surabaya.

Itu penting. Maksudku, siapa juga sih yang tidak punya mimpi bisa mengenyam pendidikan perkuliahan di PTN favorit? Di tengah-tengah isu mengerikan bahwa Ujian Nasional tahun pelajaran 2012/2013 akan diupgrade dengan penambahan kode soal ujian menjadi 10 kode (atau mungkin 20) dan penjagaan ketat dari pihak-pihak berwajib seperti polisi, tentara, densus 88 atau semacamnya.. Kami pelajar Indonesia masih harus menerima kenyataan bahwa kuota masuk perguruan tinggi akan lebih didominasi oleh jalur SNMPTN Undangan akan karena alasan ketidakpercayaan pihak universitas terkait hasil NEM Ujian Akhir Nasioanal.

Aku belum pernah membayangkan bahwa kehidupan tentram si pemuda bersemangat ini akan berubah menjadi sebuah dilema besar suatu saat nanti. Ketika segala kemungkinan bukan tidak mungkin bisa terjadi, dan harus menerima kenyataan pahit bahwa apabila dilihat dari tugas menggambar grafik yang diberikan BK pada semester lalu, ditemukan fakta yang mengguncang hati nurani: NILAIKU RAPOR KELAS X SEMESTER II TURUN SEMBILAN MATA PELAJARAN!!! TIDAAAAAAK!!! *lebay* Efeknya nyatanya: merenung lebih lama, berkubang dalam penyesalan, (sedikit) tidak nafsu makan.

Kata kakak kelas XII yang barusan lulus, “Nilai rapor SNMPTN Jalur Undangan dilihat dari prestasi akademis semester 3, 4, dan 5.”

Sejenak pikirku, Wah itu bukan masalah. Sekarang aku menjadi lebih berjuang keras semenjak masuk IPS. Tak peduli masa laluku kelam, aku optimis ke depannya nilaiku pasti bisa terus naik. Tapi coba pikirkan, astaga—Lady Gaga saja bisa batal konser, lalu kenapa persyaratan SNMPTN Undangan tidak bisa berubah? Bisa saja, misalnya, di masa depan syaratnya menjadi nilai rapor SMA semester satu atau sampai nilai SMP sekalipun. Jujur saja, aku bukan anak yang jenius dan karena SNMPTN Undangan adalah harapan terbesarku. Sebenarnya semenjak kemarin, si kata hati terus menerus meneriaki diriku untuk tetap optimis. Jalan lurus menuju Roma masih panjang dan membentang. Buat apa hilang semangat sebelum berperang? Bukankah kita mengenal peribahasa anonim: orang yang bodoh kalah dengan orang yang pintar, orang yang pintar kalah dengan orang yang rajin belajar, dan orang yang rajin belajar akan tetap kalah dengan orang yang beruntung. Yup, I called it ‘A Miracle From The God’. Kita nggak akan pernah tahu rencana indah Tuhan.

Tapi gimana ya? Lentera yang kebocoran minyak sudah terlanjur meredup apinya. Jadi mikir, ‘gue dulu di kelas X ngapain aja seh? Ikut pertukaran pelajar? Ikut tes TKI? Disidang di pengadilan karena kasus tilang motor?’ -_____-

Untuk sedikit menentramkan pikiran, aku mencoba berkonsultasi dengan Google. Disana banyak ditemukan kasus bahwa nilai kumulatif yang terus naik bukanlah tolak ukur utama diterimanya seseorang yang mendaftar lewat jalur SNMPTN Undangan (yaa walaupun tidak bisa dipungkiri aspek tersebut berpengaruh sekali). Kadang lebih ditekankan pada kepribadian pendaftar dan organisasi apa yang pernah diikutinya semasa SMP. Tetapi itu semua kembali lagi kepada kebijakan otonomi tiap universitas.

Kita nggak tahu bakal jadi apa nanti. Yang penting tetap berusaha untuk menggapai tujuan  nomor satu. Doakan aku supaya diberikan yang terbaik yaaa... *kembali merana*

P.S : Anak IPA tolong jangan rebut lahan kami T______T

Rabu, 07 Maret 2012

Nujuh Bulanan Jadi Anak IPS

Ini tentang kelasku. XI IPS 1. Setelah tujuh bulan berlalu...

Ceritanya setelah mengalami penjurusan di awal semester satu, akhirnya tanpa terduga namaku tercantum di kelas XI IPS 1. Horeee.. sesuatu yah. Pikirku saat itu, asyik IPS unggulan. Hehe.. Oh ya bagi yang belum tahu apa itu XI IPS 1, ini dia ada definisi singkatnya:

"XI IPS 1 adalah gudang anak-anak berbakat, suara-suara satwa, dan juga bintang iklan. Memiliki ciri khas keragaman gaya bicara yang unik antar tiap anggota, kekompakan untuk belajar justru di saat ujian, dan memiliki akreditasi buruk di mata para guru." - Lailatul Mubarokah, Stabilitator Kelas.

"XI IPS 1 merupakan sebuah lembaga sosial dan area belajar yang bersifat semi panti rehabilitasi, yayasan, rumah sakit jiwa, tempat penemuan bakat terpendam, dan panggung drama, yang memiliki jumlah populasi sebanyak 34 orang." - Fatchur Maulana, Bendahara Kelas.

Nah, sekilas penggambarannya seperti itu kawan-kawan. Apa adanya, dan tanpa rekayasa. Bagi yang penasaran sama wujud asli kelasku, ini ada sedikit gambarnya:

Gambar satu titik satu.
(Tulisan sebenarnya sih R. KELAS XI IPS 1. Tapi salah satu oknum yang tidak bertanggung jawab (sebut saja namanya Bunga) menempelkan tempelan tidak senonoh (stiker, red))

Asal tahu saja, kelas IPS masuk dalam jajaran pengawasan tingkat tinggi dengan markas pantauan dari ruang guru. Hal ini memungkinkan terjadinya ketidakleluasaan gerak saat jam kosong, mengingat warga IPS suka kabur main futsal ke aula atau sekedar bolak-balik beli minum ke KOPSIS. Untungnya suasana kelas yang fleksibel bagi semua anak membuat warganya (alhamdulillah) nyaman.

Gambar satu titik dua.
(Tampak depan)

Gambar satu titik tiga.
(Tampak belakang)

Loh? Kok sepi? Pada kemana?
Kebetulan lagi jam kosong dan sebagian warganya bermigrasi ke titik-titik favorit mereka masing-masing.

Wah, langit-langitnya kok ada yang bolong?
Dari dulu memang gitu kaleeeee.... -_______-

Di tempat inilah aku hidup. Kelas yang katanya paling parah dari keempat kelas IPS yang ada. Menghabiskan 7 jam hampir setiap hari dalam seminggu. Merasakan suka, duka, emosi, kejengkelan, dan lain sebagainya. Jadi siswa IPS itu harus serba sabar dan menata mental dengan baik ._. Karena nggak cuma satu jenis anak dengan satu jenis tujuan yang bakalan kamu hadapi. Untunglah, teman satu bangkuku baik hati dan rajin menabung. Tadaaaaaan!

Gambar dua titik satu.
(And her name iiiiiiissss... Yulita Widiasputri. Kita suka joget Bonamana kalau lagi gak ada kerjaan :">)

Yulita ini salah satu spesies langka di rancah perhelatan XI IPS 1. Dia bisa menirukan suara anak kecil yang agak-agak mirip anak SLB. Beberapa yang lain diantaranya:

1. Indah Novi - Sama kayak Yulita. Mereka biasanya ngobrol dengan tatanan bahasa yang terlalu mudah dicerna. O ya, Novi ini juga punya kemampuan sendawa super.

2. Yusuf a.k.a Acol - Mantan Tarzan (kayaknya). Mampu menirukan gaya suara beberapa satwa. Aku curiga dia masih satu peranakan dengan Fathiyah.

3. Badrus - Hobi berorasi. Punya aksen pengucapan 'S' yang aduhai.

4. Fahmi - Punya gerak refleks mata di atas manusia normal.

5. Priyo a.k.a Ampok - Sulit terdefinisikan.

Kebayang nggak sih orang-orang kayak begitu ngumpul dalam satu kelas? Rasanya kayak menari sama paus akrobatis, makan mie sama paus akrobatis, digebukin paus akrobatis.... *korban iklan* Tuhan memang maha adil. Sisi baiknya kelas kita dikasih satu stabilitator yang sangat mengayomi tugasnya. Tipe-tipe penyabar, penyayang, dan soleh-solehah. Memperkenalkan....

Gambar dua titik dua.
(Lailatul Mubarokah a.k.a Muslimah! Paling pintar di kelas. Ranking paralel. Sebangku sama Dewi a.k.a Gonjenk yang baru-baru ini ditipu orang. Kasihan kasihan...)

Dulunya aku sempat agak nggak betah disini. Soalnya kan aku anaknya agak pasif dan kurang gerak gitu ._. Eh tapi makin lama, makin bisa eksplor diri bersama penghuni-penghuni yang lain. So, setelah kurang lebih tujuh bulan disana, aku jadi semakin yakin kalau pilihanku masuk ke IPS itu BUKAN suatu KESALAHAN. Yeah, walaupun kemarin hari sempat ada konflik salah paham yang membuatku jadi hilang respek sama beberapa orang. But, tak apalah.. Yang penting enjoyyyy!!!

Eh bentar, ada bonus satu lagi:

Gambar tiga titik satu.
(Sssst.. mereka lagi main game klasik ABC. Nebak nama pemain sepak bola lah, nama iklan lah, nama ortu mereka masing-masing lah.. Daftar kunci jawabannya aja lebih panjang daripada sensus penduduk -_______-)

Rabu, 26 Oktober 2011

:)

Kadang aku kangen saat-saat ini. Kadang ada momen dimana aku bersedia menukarkan apapun untuk bisa kembali ke masa-masa ini. Tahukah kalian bahwa bagiku mereka lebih dari sekedar kenangan manis di masa lampau? Mereka hartaku yang hilang. Yang berusaha kuungkit, kukais, kurasakan. Dan pada akhirnya aku ingin bahagiaku akan selalu membuncah kembali karena mereka.

~ Aku ingin kembali pada hari dimana rambut Puspa masih panjang.

~ Aku ingin kembali pada hari dimana kulihat Kak Rista menangis karena remedial Fisika.

~ Aku ingin kembali pada hari dimana Smitty mulai krisis. Tapi dia masih mampu membuatku tertawa terbahak-bahak.

~ Aku ingin kembali pada hari dimana Mbak Kiwos ditembak sama kernet bus yang baru dia kenal di hari yang sama.

~ Aku ingin kembali pada hari dimana mereka bersenang-senang saat hujan deras turun.

~ Aku ingin kembali pada hari dimana kami berenam tegang memikirkan masa depan konsep mading.

~ Aku ingin kembali pada hari dimana menyetapler majalah dianggap sebagain sesuatu yang mengasyikkan.

Tapi aku tidak benar-benar ingin kembali. Tetap kokoh berdiri di masa ini, karena aku harus menjadi orang yang pantang menyerah menghadapi berbagai macam masalah. Dan senyum mereka semualah yang memberikanku kekuatan.

Good bless you.

Minggu, 23 Oktober 2011

Anak IPS Ikut Bimbel = Sia-sia?

Bismillahirrahmanirrahim...

Lagi dilanda kebingungan, nih. Dan butuh lebih banyak perenungan. Kemarin aku barusan masuk sebuah bimbel. Harga yang dipatok untuk satu tahun memang lumayan 'wow'. Tapi ortu menyanggupi dan aku nggak lagi ungkit-ungkit masalah itu. Kesan minggu pertama.. yeah, good. Enjoy. Materinya masuk otak.

Tapi kemudian sebuah momen percakapan bikin aku muter otak. Aku, anak IPS, ikut bimbel? Apa nggak sia-sia belaka, tuh? Apalagi ditambah dengan fakta akumulasi biaya yang sedikit disinggung tadi. Bisa bayangkan kan? Well, anak IPS kasarannya emang cuma modal apalan. Matematikanya bisa dibilang lumayan gampang lah. Sedangkan akuntansi? Bisa jadi itu sulit. Tapi kalau yang sulit cuma segelintir kenapa harus ikut bimbel yang notabene mengambil 3/4 pelajaran dari pelajaran inti?

Aku nggak pintar. Tapi aku juga nggak telmi. Aku cuma malas belajar. Tapi aku juga sangat ingin masuk Perguruan Tinggi NEGERI yang bukan ecek-ecekan. Tapi nasib dan rejeki di masa depan juga enggak serta merta ditentukan oleh faktor lulusan PTN mana.

Pertanyaannya: Bener nggak, sih? Salah nggak, sih? Sia-sia nggak, sih? Duduk permasalahannya udah jelas. Misalkan nih, kalau aku berkasta Brahmana, aku enggak akan mikir apa aku harus keluar duit buat masuk bimbel atau enggak. Santai aja. Anggap itu pengisi waktu luang.

Nah, terus gimana kalau kenyataannya kastaku itu Waisya? Masih perlukah ikut bimbel kalau nerima materi di sekolah saja sudah (cukup) nyantol? Apakah enggak terlalu neko-neko kalau anak IPS ikut bimbel? Bingung? Aku lebih bingung.

Minggu, 16 Oktober 2011

Jangan Cukur Dulu, Please...


Pokoknya jangan cukur dulu. Diam Pak, Bapak. Engkau belum tahu kegundahan hatiku. Besok rabu foto redaksi, Anda tahuuu? Dan, well.. aku benci ini, tapi kuberitahu, kepalaku seperti semangka kalau habis cukur rambut. KAU SENANG? HA! KAU SENANG? Makadari itu, jadi... tekadku sudah bulat. Rambutku akan tetap gondrong sampai selepas foto redaksi. Tetap jelek, sih. Tapi paling tidak itu nggak terlalu buruk. Deal, ya? Jangan cukur dulu? Al-Fatihah...