Tubuhku berangsur ringkih, ketika tak pernah nampak sosokmu
di balik daun jendela
Mataku berangsur buram, ketika tak sekalipun kehadiranmu
menyela kehidupanku yang maya
Telingaku berangsur tuli, ketika derai tawa itu tak pernah terdengar
suaranya
Terjalin erat dalam ingatan masa lalu
Aku terus mengulang
Mengulang
Dan mengulang
Tentang sepotong cinta yang kutawarkan, yang tak pernah
diterima
Mengendap di dasar asa
Membuka pintu hatimu—harus sampai berapa lama?
Tak ada desir halus yang mencoba mendorongku sekuat tenaga
Sungai yang mengering
Ladang yang tandus
Bunga-bunga yang layu
Menanti datangnya hujan
Menanti datangnya kekuatan
Menanti datangnya kehidupan
Aku mengintip dalam celah kardus yang kosong
Disana terbaring ketiadaan
Lalu nampak seperti:
Tempat menaruh mimpi-mimpi yang terkubur dalam liang
Tempat menyimpan segelintir harapan yang gersang
Tempat penantian panjang yang tanpa jeda
Seperti potongan cinta yang kau buang dengan sia-sia



Tidak ada komentar:
Posting Komentar