Jumat, 01 Juli 2011

Aku Dan Mengumpat



Ya.. Ya.. Ya.. Wajarlah jika ada yang berpendapat postku kali ini membuatku layak digampar. HOHOHO. Selow dulu, men—wolesss... Gak ada salahnya juga kan sekali-kali coba bahas kebiasaan yang sudah mendarah daging di sebagian besar kalangan kita?

Ngomong-ngomong, menyinggung soal mengumpat akan membawa kita pada beberapa pertanyaan dasar seperti di bawah ini:


1.      Apa sih enaknya ngumpat?
2.       Kenapa lo sering ngumpat?
3.       Umpatan favorit lo apa?
4.       Apa yang lo rasakan setelah mengumpat?
5.       Dll.

Aku sendiri, jujur, alhamdulilah sampai saat ini masih tergolong manusia yang tidak suka dan jarang mengumpat secara lisan. Tapi.. jarang bukan berarti nggak pernah kan? Yaiyalah bos, aku kan bukan robot tanpa hati dan emosi. Se-flat atau sekalem-kalemnya aku selama ini, nggak ada yang menjaminku bebas dari kalap (baca : emosi tingkat tinggi) lalu mengeluarkan sederet kata yang entah kenapa bisa terprogram dalam otakku. Huahahaha.. Cuman, ya memang nggak sekasar and sevariatif seperti orang lain.


Jadi begini.. sebenarnya aku merasa agak kuatir sama diriku sendiri. Kenapa? Soalnya belakangan ini aku seringnya mengumpat dalam hati dan bukan secara lisan. Nggak peduli pakai bahasa Inggris atau lokal (biasanya aku bilang ‘Sialan’, ‘What the hell..’, ‘You’re sooo FUCK!’, atau kalau nggak ‘Ow, SHIT!’) tapi kalau di hati itu tetap saja nggak bagus kan? Hati kita harus selalu bersih lah, guys. Dan makanya aku sekarang berusaha banget menghilangkan aktivitas itu. Mending pakai istighfar aja kali.. LOL.


Aku sendiri mempunyai penilain buruk soal kebiasaan mengumpat, khususnya secara lisan. Pernah aku benci sama salah seorang temanku, bahkan hilang respect sama sekali, gara-gara dia update status FB pakai umpatan, di-CAPSLOCK, mana kasar pisan. Nah, mending kalau pakai bahasa Inggris. Lah ini? Tahu sendiri dong, bagaimana umpatan orang Jawa itu? Sumpah. Miris bacanya. Nggak lebay sebetulnya, tapi aku sering langsung ilfil begitu tahu ada orang ngumpat lisan pakai bahasa kasar (apalagi dia cewek, terus aku kenal dekat orang itu dan baru pertama kali lihat dia ‘bereaksi’).


Menurutku, kalau ada orang yang lebih suka mengumpat pakai Bahasa Inggris bukan berarti dia sok-sokan atau apa. Kata ‘FUCK’ di Eropa atau Amerika sana bisa jadi sama kasarnya dengan ‘DANCOK’ di Surabaya. But, hey, kita Indonesia! Biar kata kita tahu FUCK merupakan kata kasar, namun paling tidak saat mendengarnya diucapkan kita hanya akan menganggapnya kosong. Coba bandingkan dengan umpatan sejenis ‘Anjing!’, ‘Danc*k!’, ‘Ta*!’ dsb dsb. Ngganjel banget ya nggak? Secara itu bahasa kita yang kita kuasai mulai dari lahir jebrot.


Dan yeah.. pada akhirnya aku mau curhat sedikit. Belakangan aku lagi banyak masalah. Apa itu masalahnya, nggak bakal ku kasih tahu kecuali aku disuap uang 100 ribu *plak*. Yang jelas itu memainkan emosi banget. Kadang aku berpikir, dengan kekanak-kanakan, kenapa sih aku nggak bisa mengumpat kayak kebanyakan orang-orang? Biar lebih plong gitu. Apa-apa aku diaaam saja. Digitukan tetap diam saja. Lama-lama muak! Tapi disisi lain bukannya aku benci pengumpat kasar? Nggak. Kalian tahu, aku munafik kalau pada akhirnya aku nggak bilang aku juga seorang pengumpat. Lho? Bingung? Iya. Pengumpat kelas baik hati. Ngumpatnya lewat tulisan, dan pakai Bahasa Inggris pula. Keren kan? Untuk yang model pengumpat kayak begini aku nggak benci. Just for penyaluran emosi lah, gitu. Well, ya sudahlah, sekali-kali untuk bersenang-senang kenapa kita nggak teriak sambil ngumpat bareng-bareng?


SIALAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN!!!!!!!!!

Sabtu, 25 Juni 2011

Sekapur Sirih

Aku bilang ini sebuah reinkarnasi. Kenapa? Kalian tahu, 'produk-produk' seperti ini sudah pernah kubuat sebelumnya. Aku nggak meyakini apa-apa yang mendorongku untuk bangkit. Ya tentu saja, mungkin ini realisasi dari kalimat, “Kalau aku punya laptop aku bakal ngeblog.”

Klise. Seakan ngeblog menjadi hal yang sangat mudah dilakukan semudah membalik telapak tangan, begitu aku punya laptop. Tapi beginilah aku. Tanpa pikir panjang, segera kubuat blog ini setelah memiliki gambaran sederhana mengenai konsep nama dan lain-lain. Selanjutnya? Pikir belakangan. Apakah faturealism.blogspot.com akan bisa menjadi wadah untuk menampung ceritaku, atau terbengkalai seperti rekannya yang ‘gugur’ terlebih dulu? Entahlah. Aku bukan Asimo Edited Version yang dirancang khusus agar selalu mengabdikan diri pada dunia blogging.

Seseorang pernah bilang, “Blogging itu sulit. Ada HTML, Javascript, dll.” Kedengarannya memusingkan sekali. Tapi AngeLinuks sedikit membuka gambaran bahwa ngeblog itu asik. Tulisannya oke, menurutku. Dan bukannya berarti aku terobsesi kayak dia. Kesampingkan soal fasilitas. Logikanya, kaum blogger tanpa ada koneksi internet sama saja bohong. Lagi-lagi mengutip sekaligus belajar meyakini kata-kata seseorang, “Where there is a will, there is a way.”

Aku bukan pebisnis blogger. Aku bukan orang terkenal yang setiap postnya ditunggu sejuta penggemar. Aku cuma pelajar biasa. Dan bukan kebutuhanku untuk berprinsip ‘Buat satu post sehari.’ Kenyataannya aku cuma sedang memanfaatkan perkembangan teknologi canggih. Mencoba  membagi kisah harianku kepada—ya, jika aku beruntung—followersku.

Sedangkan mengenai isinya... sebenarnya hanya berupa kopian. Maksudku, kita semua manusia kan? Hal yang terjadi denganku, bukan mustahil juga pernah terjadi padamu. Jika kau akhirnya menyadari itu, lalu kau bisa melihat adanya persamaan, mungkin dari situ kita bisa berteman.

So, bagi visitor, terimakasih sudah mau berkunjung. Bagi reader, terimakasih sudah mau meluangkan waktu. Dan bagi komentator (kalo ada) terimakasih sudah mau kasih apresiasi. Salam hangat dariku. See ya! :D