Rabu, 26 Oktober 2011

:)

Kadang aku kangen saat-saat ini. Kadang ada momen dimana aku bersedia menukarkan apapun untuk bisa kembali ke masa-masa ini. Tahukah kalian bahwa bagiku mereka lebih dari sekedar kenangan manis di masa lampau? Mereka hartaku yang hilang. Yang berusaha kuungkit, kukais, kurasakan. Dan pada akhirnya aku ingin bahagiaku akan selalu membuncah kembali karena mereka.

~ Aku ingin kembali pada hari dimana rambut Puspa masih panjang.

~ Aku ingin kembali pada hari dimana kulihat Kak Rista menangis karena remedial Fisika.

~ Aku ingin kembali pada hari dimana Smitty mulai krisis. Tapi dia masih mampu membuatku tertawa terbahak-bahak.

~ Aku ingin kembali pada hari dimana Mbak Kiwos ditembak sama kernet bus yang baru dia kenal di hari yang sama.

~ Aku ingin kembali pada hari dimana mereka bersenang-senang saat hujan deras turun.

~ Aku ingin kembali pada hari dimana kami berenam tegang memikirkan masa depan konsep mading.

~ Aku ingin kembali pada hari dimana menyetapler majalah dianggap sebagain sesuatu yang mengasyikkan.

Tapi aku tidak benar-benar ingin kembali. Tetap kokoh berdiri di masa ini, karena aku harus menjadi orang yang pantang menyerah menghadapi berbagai macam masalah. Dan senyum mereka semualah yang memberikanku kekuatan.

Good bless you.

Minggu, 23 Oktober 2011

Anak IPS Ikut Bimbel = Sia-sia?

Bismillahirrahmanirrahim...

Lagi dilanda kebingungan, nih. Dan butuh lebih banyak perenungan. Kemarin aku barusan masuk sebuah bimbel. Harga yang dipatok untuk satu tahun memang lumayan 'wow'. Tapi ortu menyanggupi dan aku nggak lagi ungkit-ungkit masalah itu. Kesan minggu pertama.. yeah, good. Enjoy. Materinya masuk otak.

Tapi kemudian sebuah momen percakapan bikin aku muter otak. Aku, anak IPS, ikut bimbel? Apa nggak sia-sia belaka, tuh? Apalagi ditambah dengan fakta akumulasi biaya yang sedikit disinggung tadi. Bisa bayangkan kan? Well, anak IPS kasarannya emang cuma modal apalan. Matematikanya bisa dibilang lumayan gampang lah. Sedangkan akuntansi? Bisa jadi itu sulit. Tapi kalau yang sulit cuma segelintir kenapa harus ikut bimbel yang notabene mengambil 3/4 pelajaran dari pelajaran inti?

Aku nggak pintar. Tapi aku juga nggak telmi. Aku cuma malas belajar. Tapi aku juga sangat ingin masuk Perguruan Tinggi NEGERI yang bukan ecek-ecekan. Tapi nasib dan rejeki di masa depan juga enggak serta merta ditentukan oleh faktor lulusan PTN mana.

Pertanyaannya: Bener nggak, sih? Salah nggak, sih? Sia-sia nggak, sih? Duduk permasalahannya udah jelas. Misalkan nih, kalau aku berkasta Brahmana, aku enggak akan mikir apa aku harus keluar duit buat masuk bimbel atau enggak. Santai aja. Anggap itu pengisi waktu luang.

Nah, terus gimana kalau kenyataannya kastaku itu Waisya? Masih perlukah ikut bimbel kalau nerima materi di sekolah saja sudah (cukup) nyantol? Apakah enggak terlalu neko-neko kalau anak IPS ikut bimbel? Bingung? Aku lebih bingung.

Minggu, 16 Oktober 2011

Jangan Cukur Dulu, Please...


Pokoknya jangan cukur dulu. Diam Pak, Bapak. Engkau belum tahu kegundahan hatiku. Besok rabu foto redaksi, Anda tahuuu? Dan, well.. aku benci ini, tapi kuberitahu, kepalaku seperti semangka kalau habis cukur rambut. KAU SENANG? HA! KAU SENANG? Makadari itu, jadi... tekadku sudah bulat. Rambutku akan tetap gondrong sampai selepas foto redaksi. Tetap jelek, sih. Tapi paling tidak itu nggak terlalu buruk. Deal, ya? Jangan cukur dulu? Al-Fatihah...

Selasa, 13 September 2011

Janji Pengurus KREATIF

JANJI PENGURUS KREATIF



1. Kami pengurus Majalah Sekolah KREATIF SMA Negeri 1 Gondang, berbakti pada Pancasila dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

2. Kami pengurus Majalah Sekolah KREATIF SMA Negeri 1 Gondang, menjunjung tinggi kehormatan sekolah serta berusaha menghindarkan diri dari perbuatan tercela.

3. Kami pengurus Majalah Sekolah KREATIF SMA Negeri 1 Gondang,  senantiasa menyajikan bacaan yang informatif dan terpercaya.

4. Kami pengurus Majalah Sekolah KREATIF SMA Negeri 1 Gondang, akan selalu bertanggungjawab penuh pada tugas, mengabdi pada organisasi, serta setia pada masa bhakti.

5. Kami pengurus Majalah Sekolah KREATIF SMA Negeri 1 Gondang, akan selalu menjaga nama baik organisasi dan kekompakan antar anggota.

Jumat, 09 September 2011

Ewtif Essago 2011/2012

ANGGOTA MAJALAH SEKOLAH 'KREATIF' SMAGA
MASA BHAKTI 2011/2012



Pembina
Bapak Nuryani S.Pd

Pimpinan Redaksi
AnakAgung Putu Eka Putra

Wakil Pimpinan Redaksi
Gesta Wahyu Sasongko

Sekretaris I
Fatchur Maulana Tegar

Sekretaris II
Arlita Ulya Kusuma

 Bendahara I
Kumil Fadlillah

Bendahara II
Uun Mudzalifah

Editor I
Apriagung Diantana Putrasetya

Editor II
Cindera Ika Putri Hegawan

Ilustrator I
Tria Astika Sari

Ilustrator II
Devi Priyandari

Reporter I
Ayu Puspa Kartika

Reporter II
Bagus Hermawan

Distributor
Dwi Rakhmat Fakhrianto

Kameramen
Hildan Sepka Aditya

Redaktur Event I
Shentia Liyuwana Devi

Redaktur Event II
Iqbal Darmawan

Redaktur Artikel
Raras Ayu Nurmaya

Redaktur Kelas I
Dedy Pratama

Redaktur Kelas II
Friska Hielvitiana

Redaktur Puisi I
Rani Widia Kusuma

Redaktur Puisi II
Syega Dias Vinanti





PS : Pesanku secara pribadi, tolong jaga terus kekompakan. Jangan bersikap pasif dalam rapat dan bertingkah seperti anak kecil jika ada masalah. Semoga Majalah KREATIF ke depannya selalu sukses dan eksis. Amin.

Rabu, 07 September 2011

Behind The (God) Scene


Pada mulanya, aku adalah orang yang sebisa mungkin beranggapan jikalau suatu hari nanti aku mendapatkan sesuatu yang nggak sesuai dengan harapan, aku akan menganggapnya sebagai takdir. 

Bukan. Bukannya takdir dalam arti aku pasrah lalu nelangsa. Jiah, maksudku adalah: bahwa setelah semua hasil jerih payah yang kita lakukan, ya inilah yang kita dapatkan. Dan mau nggak mau kita harus menerima apa adanya.

Seperti ketika aku masuk SMA. Ayah meyakinkanku dulu, dengan bermodalkan sedikit 'trik', aku bisa diterima di SMA favorit. Aku nggak bodoh. Terang saja aku mau menerima penawaran itu. Dan ketika belakangan aku sadar itu adalah awal mula kejadian yang membuat keluargaku sakit hati, aku sudah tidak berani berharap terlalu muluk.

Dan setelah satu tahun berlalu, kini aku berani bilang.. takdir adalah hal baik untuk dituruti.

Dunia maya adalah suatu tempat yang misterius. Seberapa dalam kita mencoba untuk mengukur apa yang bisa ditemukan disana, biasanya selalu terjadi hal tak terduga yang membuat kita terheran-heran.

Sepertiku. Aku adalah salah satu dari banyak orang yang terkagum-kagum pada cerita Harry Potter. Fakta ini selalu membawaku berbincang bersama orang-orang yang mengerti kenapa Harry Potter sangat layak untuk didiskusikan. Hingga suatu hari aku bertemu dengan dia. Potter Freaks lain, yang baru kuketahui dimana tempat tinggalnya (ternyata kami menetap di kota yang sama) beberapa hari sesudah perkenalan pertama. Seorang anak perempuan, satu tahun lebih tua dariku, dan aku belum pernah ketemu sekalipun sama dia (kecuali ada satu fotonya. Sesuatu banget deh -_____-)

Jujur aku adalah orang yang dianugerahi kekurangan oleh Tuhan berupa ingatan jangka pendek. Kalau disuruh menceritakan secara detail tentang apa saja topik percakapan yang pernah kita obrolkan dulu, jangan harap aku akan ingat. Hahahaha =)) Yang pasti kita ngomongin Harry Potter. Di luar itu? Hal-hal biasa. Karena aku menganggapnya sesama fans seperti temanku yang lain. Tapi yang paling kuingat sampai sekarang adalah bahwa kita dulu pernah janjian nonton HP 6 di Golden Theater. Selain itu aku juga menawarkan diri meminjaminya novel HP 7. Sayangnya karena jarak rumah kita berdua jauh sekali, hal itu nggak pernah terjadi.

Lalu apa hubungannya dengan tulisanku ini? Apa jangan-jangan dia itu orang yang menukar Amira? Yang menjadi batu terjal dalam percintaannya dengan Rangga?

Abaikan.

Masalahnya, sewaktu aku masuk ke SMA aku segera saja bergabung dengan ekstra kulikuler majalah sekolah. Kami memiliki senior-senior disana. Beberapa ada yang kenal, beberapa sama sekali tidak kenal. Dari sebelas senior/kakak kelas, ada satu yang namanya Yunidha. Menurut penglihatan awamku (karena kita belum terlalu akrab), Yunidha adalah sosok dengan pribadi yang membingungkan. Kadang aku melihatnya sebagai tipikal cewek yang bermuka killer, dan aku sempat mikir ‘hindari dia kalau mau selamat’. Kadang aku melihatnya seolah-olah dia ini anak yang tidak pernah mendapatkan hak-haknya. Pikiran itu tercetus ketika satu momen saat rapat, aku mendengar suaranya yang seperti terdengar dalam konotasi memelas yang kurang wajar. Hahaha. Baru belakangan kutahu kalau ada orang-orang tertentu yang memang punya kebiasaan semacam itu.

Nah, kebetulan periode itu Kak Yunidha menjabat sebagai Koordinator Mading. Kami anggota baru ditugaskan mengisi mading sekolah yang kosong. Siang itu aku mendapatkan SMS dari Kak Yunidha. Kalau nggak salah isinya tentang deadline pengumpulan mading. Dan tahu apa? Aku terkejut sekali begitu membuka pesan itu. Bukan karena isi pesannya. Tapi karena nama pengirimnya.

Nidha Flufy.

Nama kontak yang kusimpan jauh sebelum nomor telepon teman-teman baruku di SMA. Nama kontak yang sama, dengan nomor telepon fans Harry Potter yang kuceritakan di atas barusan. Aku langsung speechless. Ingatanku yang buruk bekerja keras mengingat-ingat fotonya. Foto yang dulu kubilang mirip teman SMP-ku, Nindy. Dan kupikir Nindy tidak ada mirip-miripnya dengan Kak Yunidha. Aku mulai penasaran. Aku mulai galau. Tiap kali kami berjumpa di ruang ekstra, aku selalu berusaha mengumpulkan keberanian untuk memastikan kebenarannya itu. Gagal.. Gagal.. Gagal.. Sebelum akhirnya pada suatu hari.. Berhasil keluar begitu saja. Dan kebenaran terkuak.

“Kak, kamu apa yang punya username *tiiiit* dulu to?”

Hening.

“Oh. Kamu.. Oh. Pantas aja aku kayak pernah lihat kamu daftar PST (teater).”

“...............”

Kesan pertama: APA-APAAN ITU? Dia bahkan tidak ganti memastikan apa username-ku.

Kesan kedua : APA-APAAN ITU? Dia bahkan tidak mengakui bahwa kita pernah kenal sebelumnya.

Kesan ketiga : APA-APAAN ITU? Dia bersikap seolah kejadian seperti ini tidak berarti apa-apa baginya. Seolah dia selalu mengalaminya sehari tiga kali.

Hahahahahaha. Tidak ada kejengkelan. Aku cuma bisa ketawa sendiri kalau pas lagi ingat. Atau kalau nggak, geleng-geleng kepala. Mengenang keyakinanku akan takdir yang pasti jauh lebih baik begitu aku diterima di SMA-ku sekarang. SMA yang kalah favorit dengan SMA yang dijanjikan ayahku di masa lampu. Tapi toh aku menikmati skenario Tuhan ini. Aku menikmati pertemuan kecil kami. Aku menikmati semuanya.

Kak Yunidha adalah dalang di balik semua ini. Kemarin lusa dia mengingatkanku dalam sebuah pesan singkat. Kalimat yang mendasari terciptanya rangkaian paragraf-paragraf ini. Dia memberi usul untuk menyimpan kenangan kocak kita di blog ini. Suatu kehormatan bagiku. Sebab dia sudah memberikanku terlalu banyak hal, yang mungkin dia sendiri tidak sadar kalau itu sangat berarti.

Kak Yunidha adalah cewek tersarap yang pernah kukenal selama hampir 17 tahun aku hidup. Dia punya pola pikir unik, dan personality luar biasa bahwa menjadi obyek lelucon bukanlah sesuatu yang buruk. Eh, tapi ini pendapatku pribadi sih. Soalnya aku sering sekali mengolok-olok dia. Aku tahu pasti ada saat ketika dia sakit hati atau apa. Tapi menurutku, aku nggak mau menyebutnya orang yang ‘tabah’ menghadapi hujatan. Karena tabah adalah ketika seseorang merasa tersinggung, namun dia mencoba sabar. Dan Kak Yunidha cenderung menganggap olokan-olokan semacam itu merupakan hal biasa.

Hubungan kami rumit =)) Dibilang teman.. wah aku sering sekali bertengkar dengannya. Dibilang musuh.. aku kan tidak suka memusuhi orang :”> Dibilang senior.. aku kadang tidak menaruh rasa hormat yang sepantasnya padanya =)) Dibilang kakak perempuan.. terlalu aneh kalau membayangkan kami jadi saudara satu ibu. Yah, mungkin kami lebih cocok disebut ANGGOTA KLUB. Muahahaha..

Kak Yunidha merangkap hiburan di RK. Dia selalu menertawakan banyak hal. Dan berubah bijaksana ketika saat-saat tertentu.

Aku mengenal Kak Yunidha yang kukenal. Dan menurutku bukan masalah kalau misalnya ada orang lain yang mencapnya jelek atau sebagainya. Karena toh kita nggak akan pernah bisa mengenal seseorang utuh 100 persen.

Well. At last, takdir. Takdir yang membuat kami sekarang menjadi satu tim. Berdiskusi, merancang rencana-rencana imajinatif, berdebat, tertawa, menangis, APAPUN. Kusadari, aku adalah orang yang biasa. Kesempatan merasakan kebersamaan seperti kebersamaan organisasi begitu, adalah bonus besar dalam hidupku. Dan aku harus mensyukurinya. I love Ewtif!! Thankies Oenjoe!! Uwluwluwluwlu!!

Jumat, 01 Juli 2011

Aku Dan Mengumpat



Ya.. Ya.. Ya.. Wajarlah jika ada yang berpendapat postku kali ini membuatku layak digampar. HOHOHO. Selow dulu, men—wolesss... Gak ada salahnya juga kan sekali-kali coba bahas kebiasaan yang sudah mendarah daging di sebagian besar kalangan kita?

Ngomong-ngomong, menyinggung soal mengumpat akan membawa kita pada beberapa pertanyaan dasar seperti di bawah ini:


1.      Apa sih enaknya ngumpat?
2.       Kenapa lo sering ngumpat?
3.       Umpatan favorit lo apa?
4.       Apa yang lo rasakan setelah mengumpat?
5.       Dll.

Aku sendiri, jujur, alhamdulilah sampai saat ini masih tergolong manusia yang tidak suka dan jarang mengumpat secara lisan. Tapi.. jarang bukan berarti nggak pernah kan? Yaiyalah bos, aku kan bukan robot tanpa hati dan emosi. Se-flat atau sekalem-kalemnya aku selama ini, nggak ada yang menjaminku bebas dari kalap (baca : emosi tingkat tinggi) lalu mengeluarkan sederet kata yang entah kenapa bisa terprogram dalam otakku. Huahahaha.. Cuman, ya memang nggak sekasar and sevariatif seperti orang lain.


Jadi begini.. sebenarnya aku merasa agak kuatir sama diriku sendiri. Kenapa? Soalnya belakangan ini aku seringnya mengumpat dalam hati dan bukan secara lisan. Nggak peduli pakai bahasa Inggris atau lokal (biasanya aku bilang ‘Sialan’, ‘What the hell..’, ‘You’re sooo FUCK!’, atau kalau nggak ‘Ow, SHIT!’) tapi kalau di hati itu tetap saja nggak bagus kan? Hati kita harus selalu bersih lah, guys. Dan makanya aku sekarang berusaha banget menghilangkan aktivitas itu. Mending pakai istighfar aja kali.. LOL.


Aku sendiri mempunyai penilain buruk soal kebiasaan mengumpat, khususnya secara lisan. Pernah aku benci sama salah seorang temanku, bahkan hilang respect sama sekali, gara-gara dia update status FB pakai umpatan, di-CAPSLOCK, mana kasar pisan. Nah, mending kalau pakai bahasa Inggris. Lah ini? Tahu sendiri dong, bagaimana umpatan orang Jawa itu? Sumpah. Miris bacanya. Nggak lebay sebetulnya, tapi aku sering langsung ilfil begitu tahu ada orang ngumpat lisan pakai bahasa kasar (apalagi dia cewek, terus aku kenal dekat orang itu dan baru pertama kali lihat dia ‘bereaksi’).


Menurutku, kalau ada orang yang lebih suka mengumpat pakai Bahasa Inggris bukan berarti dia sok-sokan atau apa. Kata ‘FUCK’ di Eropa atau Amerika sana bisa jadi sama kasarnya dengan ‘DANCOK’ di Surabaya. But, hey, kita Indonesia! Biar kata kita tahu FUCK merupakan kata kasar, namun paling tidak saat mendengarnya diucapkan kita hanya akan menganggapnya kosong. Coba bandingkan dengan umpatan sejenis ‘Anjing!’, ‘Danc*k!’, ‘Ta*!’ dsb dsb. Ngganjel banget ya nggak? Secara itu bahasa kita yang kita kuasai mulai dari lahir jebrot.


Dan yeah.. pada akhirnya aku mau curhat sedikit. Belakangan aku lagi banyak masalah. Apa itu masalahnya, nggak bakal ku kasih tahu kecuali aku disuap uang 100 ribu *plak*. Yang jelas itu memainkan emosi banget. Kadang aku berpikir, dengan kekanak-kanakan, kenapa sih aku nggak bisa mengumpat kayak kebanyakan orang-orang? Biar lebih plong gitu. Apa-apa aku diaaam saja. Digitukan tetap diam saja. Lama-lama muak! Tapi disisi lain bukannya aku benci pengumpat kasar? Nggak. Kalian tahu, aku munafik kalau pada akhirnya aku nggak bilang aku juga seorang pengumpat. Lho? Bingung? Iya. Pengumpat kelas baik hati. Ngumpatnya lewat tulisan, dan pakai Bahasa Inggris pula. Keren kan? Untuk yang model pengumpat kayak begini aku nggak benci. Just for penyaluran emosi lah, gitu. Well, ya sudahlah, sekali-kali untuk bersenang-senang kenapa kita nggak teriak sambil ngumpat bareng-bareng?


SIALAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN!!!!!!!!!

Sabtu, 25 Juni 2011

Sekapur Sirih

Aku bilang ini sebuah reinkarnasi. Kenapa? Kalian tahu, 'produk-produk' seperti ini sudah pernah kubuat sebelumnya. Aku nggak meyakini apa-apa yang mendorongku untuk bangkit. Ya tentu saja, mungkin ini realisasi dari kalimat, “Kalau aku punya laptop aku bakal ngeblog.”

Klise. Seakan ngeblog menjadi hal yang sangat mudah dilakukan semudah membalik telapak tangan, begitu aku punya laptop. Tapi beginilah aku. Tanpa pikir panjang, segera kubuat blog ini setelah memiliki gambaran sederhana mengenai konsep nama dan lain-lain. Selanjutnya? Pikir belakangan. Apakah faturealism.blogspot.com akan bisa menjadi wadah untuk menampung ceritaku, atau terbengkalai seperti rekannya yang ‘gugur’ terlebih dulu? Entahlah. Aku bukan Asimo Edited Version yang dirancang khusus agar selalu mengabdikan diri pada dunia blogging.

Seseorang pernah bilang, “Blogging itu sulit. Ada HTML, Javascript, dll.” Kedengarannya memusingkan sekali. Tapi AngeLinuks sedikit membuka gambaran bahwa ngeblog itu asik. Tulisannya oke, menurutku. Dan bukannya berarti aku terobsesi kayak dia. Kesampingkan soal fasilitas. Logikanya, kaum blogger tanpa ada koneksi internet sama saja bohong. Lagi-lagi mengutip sekaligus belajar meyakini kata-kata seseorang, “Where there is a will, there is a way.”

Aku bukan pebisnis blogger. Aku bukan orang terkenal yang setiap postnya ditunggu sejuta penggemar. Aku cuma pelajar biasa. Dan bukan kebutuhanku untuk berprinsip ‘Buat satu post sehari.’ Kenyataannya aku cuma sedang memanfaatkan perkembangan teknologi canggih. Mencoba  membagi kisah harianku kepada—ya, jika aku beruntung—followersku.

Sedangkan mengenai isinya... sebenarnya hanya berupa kopian. Maksudku, kita semua manusia kan? Hal yang terjadi denganku, bukan mustahil juga pernah terjadi padamu. Jika kau akhirnya menyadari itu, lalu kau bisa melihat adanya persamaan, mungkin dari situ kita bisa berteman.

So, bagi visitor, terimakasih sudah mau berkunjung. Bagi reader, terimakasih sudah mau meluangkan waktu. Dan bagi komentator (kalo ada) terimakasih sudah mau kasih apresiasi. Salam hangat dariku. See ya! :D