Pada mulanya, aku adalah orang yang sebisa mungkin beranggapan jikalau suatu hari nanti aku mendapatkan sesuatu yang nggak sesuai dengan harapan, aku akan menganggapnya sebagai takdir.
Bukan. Bukannya takdir dalam arti aku pasrah lalu nelangsa. Jiah, maksudku adalah: bahwa setelah semua hasil jerih payah yang kita lakukan, ya inilah yang kita dapatkan. Dan mau nggak mau kita harus menerima apa adanya.
Seperti ketika aku masuk SMA. Ayah meyakinkanku dulu, dengan bermodalkan sedikit 'trik', aku bisa diterima di SMA favorit. Aku nggak bodoh. Terang saja aku mau menerima penawaran itu. Dan ketika belakangan aku sadar itu adalah awal mula kejadian yang membuat keluargaku sakit hati, aku sudah tidak berani berharap terlalu muluk.
Dan setelah satu tahun berlalu, kini aku berani bilang.. takdir adalah hal baik untuk dituruti.
Dunia maya adalah suatu tempat yang misterius. Seberapa dalam kita mencoba untuk mengukur apa yang bisa ditemukan disana, biasanya selalu terjadi hal tak terduga yang membuat kita terheran-heran.
Sepertiku. Aku adalah salah satu dari banyak orang yang terkagum-kagum pada cerita Harry Potter. Fakta ini selalu membawaku berbincang bersama orang-orang yang mengerti kenapa Harry Potter sangat layak untuk didiskusikan. Hingga suatu hari aku bertemu dengan dia. Potter Freaks lain, yang baru kuketahui dimana tempat tinggalnya (ternyata kami menetap di kota yang sama) beberapa hari sesudah perkenalan pertama. Seorang anak perempuan, satu tahun lebih tua dariku, dan aku belum pernah ketemu sekalipun sama dia (kecuali ada satu fotonya. Sesuatu banget deh -_____-)
Jujur aku adalah orang yang dianugerahi kekurangan oleh Tuhan berupa ingatan jangka pendek. Kalau disuruh menceritakan secara detail tentang apa saja topik percakapan yang pernah kita obrolkan dulu, jangan harap aku akan ingat. Hahahaha =)) Yang pasti kita ngomongin Harry Potter. Di luar itu? Hal-hal biasa. Karena aku menganggapnya sesama fans seperti temanku yang lain. Tapi yang paling kuingat sampai sekarang adalah bahwa kita dulu pernah janjian nonton HP 6 di Golden Theater. Selain itu aku juga menawarkan diri meminjaminya novel HP 7. Sayangnya karena jarak rumah kita berdua jauh sekali, hal itu nggak pernah terjadi.
Lalu apa hubungannya dengan tulisanku ini? Apa jangan-jangan dia itu orang yang menukar Amira? Yang menjadi batu terjal dalam percintaannya dengan Rangga?
Abaikan.
Masalahnya, sewaktu aku masuk ke SMA aku segera saja bergabung dengan ekstra kulikuler majalah sekolah. Kami memiliki senior-senior disana. Beberapa ada yang kenal, beberapa sama sekali tidak kenal. Dari sebelas senior/kakak kelas, ada satu yang namanya Yunidha. Menurut penglihatan awamku (karena kita belum terlalu akrab), Yunidha adalah sosok dengan pribadi yang membingungkan. Kadang aku melihatnya sebagai tipikal cewek yang bermuka killer, dan aku sempat mikir ‘hindari dia kalau mau selamat’. Kadang aku melihatnya seolah-olah dia ini anak yang tidak pernah mendapatkan hak-haknya. Pikiran itu tercetus ketika satu momen saat rapat, aku mendengar suaranya yang seperti terdengar dalam konotasi memelas yang kurang wajar. Hahaha. Baru belakangan kutahu kalau ada orang-orang tertentu yang memang punya kebiasaan semacam itu.
Nah, kebetulan periode itu Kak Yunidha menjabat sebagai Koordinator Mading. Kami anggota baru ditugaskan mengisi mading sekolah yang kosong. Siang itu aku mendapatkan SMS dari Kak Yunidha. Kalau nggak salah isinya tentang deadline pengumpulan mading. Dan tahu apa? Aku terkejut sekali begitu membuka pesan itu. Bukan karena isi pesannya. Tapi karena nama pengirimnya.
Nidha Flufy.
Nama kontak yang kusimpan jauh sebelum nomor telepon teman-teman baruku di SMA. Nama kontak yang sama, dengan nomor telepon fans Harry Potter yang kuceritakan di atas barusan. Aku langsung speechless. Ingatanku yang buruk bekerja keras mengingat-ingat fotonya. Foto yang dulu kubilang mirip teman SMP-ku, Nindy. Dan kupikir Nindy tidak ada mirip-miripnya dengan Kak Yunidha. Aku mulai penasaran. Aku mulai galau. Tiap kali kami berjumpa di ruang ekstra, aku selalu berusaha mengumpulkan keberanian untuk memastikan kebenarannya itu. Gagal.. Gagal.. Gagal.. Sebelum akhirnya pada suatu hari.. Berhasil keluar begitu saja. Dan kebenaran terkuak.
“Kak, kamu apa yang punya username *tiiiit* dulu to?”
Hening.
“Oh. Kamu.. Oh. Pantas aja aku kayak pernah lihat kamu daftar PST (teater).”
“...............”
Kesan pertama: APA-APAAN ITU? Dia bahkan tidak ganti memastikan apa username-ku.
Kesan kedua : APA-APAAN ITU? Dia bahkan tidak mengakui bahwa kita pernah kenal sebelumnya.
Kesan ketiga : APA-APAAN ITU? Dia bersikap seolah kejadian seperti ini tidak berarti apa-apa baginya. Seolah dia selalu mengalaminya sehari tiga kali.
Hahahahahaha. Tidak ada kejengkelan. Aku cuma bisa ketawa sendiri kalau pas lagi ingat. Atau kalau nggak, geleng-geleng kepala. Mengenang keyakinanku akan takdir yang pasti jauh lebih baik begitu aku diterima di SMA-ku sekarang. SMA yang kalah favorit dengan SMA yang dijanjikan ayahku di masa lampu. Tapi toh aku menikmati skenario Tuhan ini. Aku menikmati pertemuan kecil kami. Aku menikmati semuanya.
Kak Yunidha adalah dalang di balik semua ini. Kemarin lusa dia mengingatkanku dalam sebuah pesan singkat. Kalimat yang mendasari terciptanya rangkaian paragraf-paragraf ini. Dia memberi usul untuk menyimpan kenangan kocak kita di blog ini. Suatu kehormatan bagiku. Sebab dia sudah memberikanku terlalu banyak hal, yang mungkin dia sendiri tidak sadar kalau itu sangat berarti.
Kak Yunidha adalah cewek tersarap yang pernah kukenal selama hampir 17 tahun aku hidup. Dia punya pola pikir unik, dan personality luar biasa bahwa menjadi obyek lelucon bukanlah sesuatu yang buruk. Eh, tapi ini pendapatku pribadi sih. Soalnya aku sering sekali mengolok-olok dia. Aku tahu pasti ada saat ketika dia sakit hati atau apa. Tapi menurutku, aku nggak mau menyebutnya orang yang ‘tabah’ menghadapi hujatan. Karena tabah adalah ketika seseorang merasa tersinggung, namun dia mencoba sabar. Dan Kak Yunidha cenderung menganggap olokan-olokan semacam itu merupakan hal biasa.
Hubungan kami rumit =)) Dibilang teman.. wah aku sering sekali bertengkar dengannya. Dibilang musuh.. aku kan tidak suka memusuhi orang :”> Dibilang senior.. aku kadang tidak menaruh rasa hormat yang sepantasnya padanya =)) Dibilang kakak perempuan.. terlalu aneh kalau membayangkan kami jadi saudara satu ibu. Yah, mungkin kami lebih cocok disebut ANGGOTA KLUB. Muahahaha..
Kak Yunidha merangkap hiburan di RK. Dia selalu menertawakan banyak hal. Dan berubah bijaksana ketika saat-saat tertentu.
Aku mengenal Kak Yunidha yang kukenal. Dan menurutku bukan masalah kalau misalnya ada orang lain yang mencapnya jelek atau sebagainya. Karena toh kita nggak akan pernah bisa mengenal seseorang utuh 100 persen.
Well. At last, takdir. Takdir yang membuat kami sekarang menjadi satu tim. Berdiskusi, merancang rencana-rencana imajinatif, berdebat, tertawa, menangis, APAPUN. Kusadari, aku adalah orang yang biasa. Kesempatan merasakan kebersamaan seperti kebersamaan organisasi begitu, adalah bonus besar dalam hidupku. Dan aku harus mensyukurinya. I love Ewtif!! Thankies Oenjoe!! Uwluwluwluwlu!!